Menurut Kantor Berita ABNA, Kerajaan Saudi yang mengeluarkan aturan pelarangan berbagai bentuk aksi unjuk rasa dan demonstrasi untuk setiap warganya tidak berhasil menghentikan aksi unjuk rasa yang sedang menjalar di berbagai kota di Arab Saudi. Pemerintah Amerika Serikat menyikapi adanya pelarangan tersebut dengan menyatakan penolakannya. AS menyebut demonstrasi dan unjuk rasa adalah hak asasi setiap warga Negara.
Menghadapi aksi warga Syiah yang sedang menuntut dibebaskannya tahanan politik yang sedang dipenjara tanpa melalui prosedur hukum sama sekali membuat kerajaan Saudi semakin memperketat aturan pelarangan demonstrasi dengan memberi ancaman sanksi berat terhadap siapapun yang bergabung dan turut serta dalam aksi unjuk rasa tersebut. Namun ancaman tersebut tidak membuat para demonstran bergeming, malah dengan memanfaatkan situs jaringan sosial seperti facebook dan twitter mereka mengajak warga lainnya untuk turut serta. Semakin hari, jumlah demonstran semakin membengkak, hal ini membuat pihak kerajaan Saudi semakin khawatir.
Kekhawatiran tersebut semakin menjadi-jadi ketika Amerika Serikat yang merupakan sekutu politik Arab Saudi bukannnya memberi dukungan mala menyatakan penolakan terhadap aturan pelarangan demonstrasi dengan menyatakan, demonstrasi dan unjuk rasa adalah hak asasi setiap warga dan pemerintah tidak boleh mencegah dan menghalanginya.